Tidak terlalu sedih
dan tidak juga terlalu senang. Karena
siklus teramat cepat berganti. Saat senang maka kesedihan menanti dan saat
sedih maka kesenangan menanti. Tidak perlu takut menghadapi keduanya. Cukup
banyak berdoa dan bersyukur dalam segala suasana.
Bersyukur?
Tak hanya pada saat
senang, tapi juga saat merasakan kesedihan. Yang tak mudah adalah ketika
bersyukur dalam kesedihan. Rasanya bertentangan dengan hati, saat sedih rasanya
diri ini paling menderita, bukan?
Kemudian berjalan lah
keluar rumah.. Lihat sekeliling dan ternyata masih banyak orang yang hidupnya
lebih menyedihkan kalau dilihat, namun tak banyak dari mereka yang tak berhenti
bersyukur dengan apapun keadaan hidupnya. Mereka hebat, bukan?
Semua manusia boleh
berandai-andai. Hanya saja, andai-andai sebaiknya disertai dengan usaha.
Misalnya saja, berandai-andai ada orang yang datang membawakan makanan saat
diri lapar dan jika kita hanya berdiam, maka sampai besok pun kita tidak akan
mendapat makanan.
Membandingkan diri
dengan orang lain tidak salah jika memang dalam kadar untuk memotivasi diri
untuk lebih baik, untuk lebih rajin, untuk lebih bersemangat. Membandingkan
diri yang demikian disebut dengan membandingkan diri dengan orang lain secara
positif. Namun ketika perbandingan diri dengan orang lain tersebut untuk
membandingkan kehebatan dan persaingan yang tidak sehat dan ujung-ujungnya
menimbulkan rasa dengki? Naudzubillahmindzalik. Semoga kita tergolong dalam
orang-orang yang pandai dalam bersikap dan membandingkan diri dengan orang
lain.
ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق