Pernahkan anda bosan
berkomunikasi dengan seseorang kemudian anda perlahan menjauh?
Bukan tanpa sebab anda merasa
lelah, anda lelah karena sering dipojokkan, disalahkan, dan seolah tidak pernah
berlaku benar?
Sehingga terkadang niat baik anda
pun ternoda karena kecewa diperlakukan demikian?
Kemudian, pernahkan saat
anda salah, kemudian anda memperbaikinya
namun ditolak meskipun anda berkali-kali berusaha menunjukkan itikad baik?
Belum lagi saat anda melihat
ekspresi wajah tidak menyenangkan yang menyakitkan dan membuat hati anda merasa
tidak nyaman?
Apa yang anda lakukan jika dalam
posisi seperti itu?
Saya pernah mengalaminya, saat itu saya memilih menjauh karena sudah terlalu lelah. Saya tidak ingin kelelahan
ini kalau dipaksakan menumbuhkan kebencian. Cukup sudah menurut saya. Saya
menyadari kala itu tidak semua hal akan kembali seperti semula. Saya tidak merasa menyesal sama
sekali berlaku demikian, karena sebelumnya saya sudah berusaha. Tapi usaha itu
tak kunjung membuahkan hasil. Saya percaya saja, Tuhan tahu apa yang terjadi.
Saya tidak seburuk, saya tidak sejahat, dan saya tidak selicik yang dipikirkan
orang-orang yang memperlakukan demikian.
Saya menyadari, masih banyak
orang lain yang saya hargai dan balik menghargai saya. Membutuhkan dan dapat
membantu saya, meski sebenarnya tidak terlalu mengharapkan timbal balik. Namun
alangkah senangnya jika memang ada yang mau membantu saat saya memang
membutuhkan bantuan, dengan ikhlas tentunya.
Saya tidak pernah lupa siapa saja
yang pernah membantu saya ‘dengan tulus’. Pada akhirnya, pernah berada di posisi itu membuat saya memahami betul makna dari sebuah ketulusan.
Ya, begitulah sedikit cerita dari
saya. Terimakasih sobat sudah mampir dan mendengarkan saya dengan membaca
tulisan ini.
ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق